![]() |
![]() |
| Home
| Profile | Bukit Az-Zikra
| Berita | Hikmah | Gallery | Contact
|
|
| Hikmah | |
|
SAKHOYA Oleh : Muhammad A.Saefulloh, MA
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqarah
[2] : 261). Secara
etimologi, sakhoya terambil dari akar kata sakha, sakhowah, atau sakhi,
yang berarti dermawan, murah hati, kedermawanan. Sakhoya secara
terminologi berarti orang yang dermawan/murah hati memberikan material
(harta) berupa zakat, infak, shodaqoh, wakaf kepada yang berhak
menerimanya (mustahiq) atau non materi seperti tasbih, tahmid, tahlil,
takbir, amar ma’ruf, nahi munkar dan sebagainya. Sakhoya merupakan
bentuk amal sholeh (kesholehan social) sebagai manifestasi (perwujudan)
dari zikir amaliah dalam dimensi kemanusiaan dan social. Banyak
keuntungan dan manfaat dari sakhoya ini, diantaranya yaitu : Pertama,
sakhoya adalah pintu rizki. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw
bersabda : “hendaklah kalian mencari rizki dengan bersedekah.”
Sebagai rasa terima
kasih dan syukur kita kepada Allah swt., setelah menerima dari-Nya, kita
akan selalu sakhoya (mengasih dan memberikannya dijalan Allah). Dengan
memberikan sebagian rizki dijalan Allah, maka sebagai konsekuensinya
adalah “la azidannakum” (pasti kutambahkan rizki untukmu
QS.Ibrahim [14] : 7). Berarti kita tambah dipercaya oleh Allah, karena
rizki yang pertama telah kita infaqkan dijalan-Nya. Inilah yang
menyebabkan rizki kita akan selalu bertambah, karena Allah swt
sudah percaya kepada kita bahwa amanah-Nya tidak kita
selewengkan. Nabi SAW bersabda : “Tidak akan berkurang harta yang
disedekahkan, abhkan akan bertambah, akan bertambah dan akan
bertambah.” Semakin kita sakhoya, semakin banyak rizki yang kita
dapat. Rizki bukan hanya uang. Boleh jadi orang dapat uang, tapi tidak
dapat rizki. Atau dia tidak dapat uang, tapi justru ia dapat rizki.
Perilaku-perilaku seperti menipu dan korupsi mendapat uang, tapi tidak
dapat rizki. Mungkin ia jujur, konsisten, tidak korupsi, ia tidak dapat
uang tapi ia mendapatkan rizki. Lalu apa iru rizki ? rizki adalah
ketenangan dan ketentraman. Rizki adalah keluarga sakinah, anak
sholeh/sholehah, teman yang baik, khusnul khatimah, dan klimaknya rizki
adalah ridho Allah dan syurga-Nya. Kedua, Allah senantiasa
melipatgandakan rizki bagi orang yang sakhoya. Allah swt berfirman : …
Ketahuilah, Sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk
mendekatkan diri (kepada Allah). kelak Allah akan memasukan mereka
kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.(QS.At-Taubah
[9] : 99) Apapun
yang kita infaqkan akan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan sakhoya
berarti kita akan dekat dengan Yang Maha Kaya dan Yang Maha Pemberi
Rizki. Rizki dan kekayaan kita akan dijamin oleh Yang Maha Kaya. Ini
berarti semakin bakhil, kita semakin jauh dari nilai hakiki dari
kekayaan sebenarnya. Dalam ayat lain Allah menyatakan : “Perumpamaan
(nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh
bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(QS.Al-Baqarah [2] : 261).
Begitu jelas ayat ini, satu benih menumbuhkan 7 butir dan setiap butir
memiliki 100 biji. Ini berarti 1 x 7 x 100 = 700, dengan demikian
minimal 700 kali lipat bagi siapapun yang berinfaq dijalan Allah. Ketiga,
sakhoya dapat menolak bala’. Sebagaimana difirmankan Allah dalam
QS.At-Taubah [9] : 98 : Di
antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang memandang apa yang
dinafkahkannya (di jalan Allah), sebagai suatu kerugian, dan dia
menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa
marabahaya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Dalam
sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda : “Sedekah itu dapat menolak
bala dan memperpanjang umur.” Jika kita sudah berinfaq tetapi
bala’ itu tetap terjadi, maka kita harus sadar bahwa justru hal itu
merupakan sarana untuk mengangkat diri kita dari tingkat (maqam) yang
selama ini kita tempati ke maqam yang lebih tinggi. Keempat, sakhoya
dapat membuat yang fana menjadi kekal. Tujuan utama hidup hamba Allah
yang beriman adalah akhirat tanpa melupakan dunia. Allah berfirman :”kehidupan
akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan” (QS.Al-Ankabut
[29] : 64). Dunia ini adalah sebagai tempat untuk mengumpulkan harta
sebanyak-banyaknya dalam rangka menggapai kebahagiaan hidup di akhirat,
yaitu dengan cara menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Nabi saw
bersabda : “perlindungan hamba Allah yang beriman di hari kiamat
dari siksa neraka adalah sedekah.” Dalam kesempatan lain,
Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya sedekah itu benar-benar
dapat memadamkan panas kubur bagi pelakunya, sesungguhnya orang mukmin
dihari qiamat hanyalah bernaung dalam sedekahnya.” Kelima, sakhoya
dapat menanamkan dalam setiap diri kita semangat silaturahim, saling
kasih sayang. Sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda : “sedekah itu
adalah pintu silaturahim/persaudaraan.” Dengan bersedekah, lawan
menjadi kawan, membuat musuh menjadi saudara, membuat mereka yang benci
menjadi cinta. ---##--- Muhammad A.Saefulloh, MA adalah asatidz Majelis Azzikra dan Kepala Madrasah Aliyah YAPINA alternative Islamic Schools Bojongsari Sawangan Depok Jawa Barat. Madrasah Aliyah (MA) YAPINA Alternatif Islamic Schools merupakan Madrasah (sekolah) yang mengintegrasikan hati, akal dan emosi dalam praktek kehidupan, sehingga terjadi proses insani yang bertaqwa, cerdas, kreatif, inovatif dan mandiri. |
|
|
@Bukit Az-zikra 2009 |
|