![]() |
![]() |
| Home
| Profile | Bukit Az-Zikra
| Berita | Hikmah | Gallery | Contact
|
|
| Hikmah | |
|
TAWAKAL Oleh : Muhammad A.Saefulloh, MA
… “dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS.Al-Maidah
[5] : 23). Secara
etimologi, tawakal adalah memercayakan, memasrahkan dan menyerahkan
permasalahan kepada pihak lain. Tawakal menunjukkan adanya kelemahan dan
ketergantungan kepada pihak lain. Dalam Al-Qur’an, kata tawakal
berjumlah 42 dalam segala bentuk, tunggal atau jamak, berkonotasi
memasrahkan diri, memercayakan serta menyerahkan segala permasalahan
kepada Allah SWT. Sedangkan secara istilah, Ibnu utsaimin memberikan
definisi, tawakal adalah bentuk ketergantungan dan kepasrahan yang benar
kepada Allah swt, sebagai zat yang berkuasa mendatangkan manfaat dan
menepis marabahaya dengan senantiasa melakukan ikhtiar (usaha)
sebagaimana yang diperintahkan-Nya. Bertawakal
bukan berarti tidak melakukan ikhtiar (usaha), tetapi lebih dari itu,
tawakal berarti menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT sembari
senantiasa melakukan ikhtiar. Ibnu Qayyim menjelaskan : rahasia dan
hakikat tawakal adalah kepasrahan jiwa kepada Allah swt, karena itu
segala bentuk ikhtiar tidak akan ada manfaatnya, jika dilakukan tanpa
kepasrahan kepada Allah. Tawakal
kepada Allah, menurut Syeikh Ibnu Taimiyah adalah upaya untuk
mendatangkan manfaat dan menepis mudharat. Tawakal menurutnya mempunyai
makna lebih luas dari mengharap pertolongan yang dikaitkan dengan
amalan. Hakikat tawakal adalah ibadah dan isti’anah (meminta tolong
kepada Allah). Seperti difirmankan Allah :”Maka sembahlah Dia dan
bertawakallah kepada-Nya.” (QS.Hud [11] : 123) bisa juga dilihat
dalam (QS.Hud [11] :88, Ar-Ra’d [13] :30, Al-Muzammil [73] : 9,
Asy-Syura [42] : 10). Jika seseorang bertawakal kepada Allah swt, Allah
akan mencukupkan dirinya dan cukuplah Allah baginya, cukup baginya
berarti Allah-lah yang mencukupi (segala sesuatu) bagi dirinya, mencegah
datangnya keburukan, mencukupkan yang menjadi keinginan dan menjaganya
dari musuh. Syekh
Abu Nashr as-sarraj membagi orang-orang yang bertawakal kedalam 3
tingkatan, yaitu 1) tawakalnya mukmin, cirinya yaitu melemparkan diri
dalam penghambaan, ketergantungan hati dengan Allah dan tenang dengan
kecukupan. Jika diberi ia akan bersyukur, jika tidak diberi tetap
bersabar dan rela dengan takdir yang telah ditentukan. 2) tawakalnya
orang yang khusus, yaitu bertawakal kepada Allah bukan karena Allah,
maka sebenarnya ia belum bertawakal kepada Allah sampai ia bertawakal
kepada Allah, dengan Allah dan karena Allah. Ia hanya akan bertawakl
kepada Allah dalam tawakalnya, bukan karena factor atau sebab lain. 3)
tawakalnya orang kelas paling khusus (khusshulkhusus), yaitu tawakalnya
adalah bergantungnya hati kepada Allah SWT. Ada
beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum kita tawakal, yaitu :
ma’rifatullah (mengenal Allah) dan sifat-sifatnya, melakukan ikhtiar
sebagai bagian dari sebab, merealisasikan ajaran tauhid, bergantung
kepada Allah, berbaik sangka kepada Allah, menyerahkan hati kepada
Allah, dan memasrahkan diri. Tawakal kepada Allah berarti menggabungkan
ilmu hati dan amalan hati. Mengetahui bahwa Allah-lah yang menaqdirkan
segala sesuatu dan yang mengatur semuanya merupakan ilmu hati. Sedangkan
amalan hati hanya bisa dilakukan dengan tenangnya hati kepada Allah,
bersandar dan percaya kepada-Nya. Banyak
manfaat dari tawakal kepada Allah swt, diantaranya yaitu : menang
melawan musuh (QS.Ali Imran [3] : 173-174) dan (QS.Al-Ahzab [33] : 22),
mendatangkan kemaslahatan dan menepis kemudharatan serta mendatangkan
rezeki dan mempercepat kesembuhan, menguatkan dan memotivasi jiwa,
menjaga jwa dari keterpurukan dan gangguan syaraf, menjauhkan manusia
dari putus asa dan frustasi serta dari melakukan bunuh diri, jiwa,
harta, anak dan keluarga senantiasa terjaga (QS.Yusuf [12] : 67),
menumbuhkan semangat dalam hati untuk beramal, membangun mentalitas yang
tegar dan mulia (QS.Ali Imran [3] : 173-174), membuka pintu rezeki,
mewujudkan kesuksesan, selalu bersama Allah, mendatangkan cinta Allah
kepada hamba-Nya, memasukkan pelakunya kedalam syurga tanpa
hisab,tawakal adalah kehormatan, izzah dan kekayaan.
---##--- Muhammad A.Saefulloh, MA adalah asatidz Majelis Azzikra dan Kepala Madrasah Aliyah YAPINA alternative Islamic Schools Bojongsari Sawangan Depok Jawa Barat. Madrasah Aliyah (MA) YAPINA Alternatif Islamic Schools merupakan Madrasah (sekolah) yang mengintegrasikan hati, akal dan emosi dalam praktek kehidupan, sehingga terjadi proses insani yang bertaqwa, cerdas, kreatif, inovatif dan mandiri. |
|
|
@Bukit Az-zikra 2009 |
|